Jumat, 17 Januari 2020

EKSISTENSI PANCASILA

   EKSISTENSI PANCASILA DALAM ERA GLOBALISASI PASCA REFORMASI 
Oleh :
Mayor Laut (P) Akhmad Hartono, S.Kel., M.Si. – NRP.11892/P
Pabandyapullahta Sops Lantamal VII


Pancasila Sebagai Ideologi.
Ideologi adalah setiap struktur kejiwaan yang tersusun oleh seperangkat keyakinan mengenai penyelenggaraan kehidupan masyarakat beserta pengorganisasianya dan seperangkat keyakinan mengenai sifat hakekat manusia dan alam semesta yang ia hidup di dalamnya. Suatu pernyataan pendirian bahwa kedua keyakinan termaksud dihayati dan pernyataan pendirian tersebut diakui sebagai kebenaran oleh segenap orang yang menjadi anggota penuh dari kelompok sosial yang bersangkutan (Patrick Corbett, 1970:14). Selanjutnya menurut  Abdul Kadir Besar (1997: 3) menyampaikan bahwa ideologi seperti yang terungkap dari jalan pikiran para pendiri negara (founding fathers) Republik Indonesia pada waktu mengidentifkasi dasar negara Indonesia merdeka adalah “seperangkat nilai intrinsik yang diyakini kebenaranya oleh suatu masyarakat dan dijadikan dasar menata dirinya dalam menegara.”
Seperangkat nilai intrinsik yang terkandung di dalam tiap ideology dapat berdaya aktif, Artinya ia memberi inspirasi sekaligus energi kepada para penganutnya, memberi inspirasi untuk mencipta dan memberi energi untuk berbuat. Oleh karenanya yang pertama kali dilakukan oleh tiap bangsa untuk mewujudkan nilai intrinsik tersebut adalah : mentransformasi ideologi yang dianutnya menjadi sejumlah ketentuan-normatif dalam wujud berbagai pasal di dalam undang-undang dasarnya (Abdul Kadir Besar, 2005:8).
Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia merupakan keyakinan filsafati dari masyarakat Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945, yang rumusanya bersifat universal. Pada instansi pertama, Pancasila ditransformasi menjadi empat pokok pikiran, empat pokok pikiran itu tidak lain adalah Pancasila itu sendiri yang secara khusus diproyeksikan pada kehidupan kenegaraan beserta penyelenggaraanya. Terubahnya tampilan-keluar membuat pokok pikiran yang bersangkutan bisa digunakan untuk hal lain yang baru, dalam hal ini digunakan untuk menata sekaligus mengatur aspek tertentu dari kehidupan kenegaraan beserta penyelenggaraanya. Pada instansi kedua, empat pokok pikiran dengan urutan yang sama oleh founding fathers Repubik Indonesia  ditransformasi menjadi empat fungsi negara. Pada instansi ketiga, para founding fathers mentransformasi tiap pokok pikiran menjadi ketentuan hukum dan dituangkan dalam sebuah atau beberapa pasal sebagai instrumen normatif untuk mewujudkan fungsi negara tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa dari  Pancasila ke  empat pokok pikiran dan dari empat pokok pikiran ke  fungsi negara padanannya, serta dari tiap empat pokok pikiran ke pasal-pasal dalam batang tubuh UUD 1945, secara berurut terdapat relasi berjenjang kebawah (bahwa tiap pasal dalam UUD 1945 adalah Transformasian jenjang ke dua dari Pancasila ).
Dengan demikian dapat ditarik conclusion bahwa pembuatan undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan presiden peraturan daerah dan lainya, secara berurut juga merupakan relasi berjenjang kebawah, sehingga dalam pembuatan setiap undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan presiden peraturan daerah dan lainya merupakan transformasi dari pancasila itu sendiri. Atau apabila kita hendak mengenakan amandemen pada suatu pasal tertentu, terlebih dulu kita telusuri secara nalar, dengan pokok pikiran yang mana pasal tersebut berelasi keatas dan dengan fungsi negara mana pasal tersebut berkait. Dengan demikian amandemen terhadap pasal tersebut, terjaga relasinya dengan pancasila sekaligus terjaga kaitanya dengan fungsi negara yang bersangkutan. Dengan demikian amandemen yang dilakukan adalah amandemen yang didasarkan kepada paradigma Pancasila; bukan paradigma lain. 
Pancasila sebagai Tantangan dan Jawaban.
Kelahiran Pancasila sebagai ideologi bangsa, meskipun berjalan alot tetapi dalam batas-batas tertentu dapat dikatakan berlangsung relatif mulus, berbeda dengan proses kelahirannya. Upaya untuk "membumikan" Pancasila di tengah bangsa Indonesia ternyata banyak menghadapi tantangan dan cobaan, tantangan terhadap Pancasila sudah mulai tampak sejak masa-masa awal bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya, tantangan terhadap eksistensi Pancasila tersebut tidak hanya bersifat internal namun juga bersifat eksternal. Berpijak pada realitas yang ada maka dapat dipastikan bahwa tantangan dan ancaman terhadap eksistensi Pancasila akan terus berlangsung.
Memang selama ini bangsa indonesia telah membuktikan bahwa Pancasila berhasil mempersatukan seluruh rakyat indonesia dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai dasar negara yang mampu mengakomodir kepentingan seluruh elemen bangsa yang beraneka ragam suku, agama dan budaya dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun demikian masih ada tuduhan miring bahwa keberadaan dan fungsi pancasila (the existence and function of) sekarang sudah tidak eksis lagi, bahkan pancasila dituduh sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan, Pancasila hanya sekedar simbol belaka dimana nilai-nilai (values) yang terkandung sudah tidak lagi berdaya aktif. Untuk itu mau tidak mau, apabila Pancasila ingin tetap eksis di bumi Nusantara ini perlu selalu dipersiapkan jawaban (respons) yang tepat atas berbagai tantangan (challenge) yang tengah dan akan terjadi.
Pancasila dalam Era Globalisasi.
Pancasila kini tengah dihadapkan dengan tantangan eskternal berskala besar berupa mondialisasi atau globalisasi. Globalisasi yang berbasiskan pada perkembangan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi, secara drastis telah mentransendensi batas-batas etnis bahkan bangsa. Jadilah Indonesia kini tanpa bisa menghindari dan dihindari menjadi bagian dari arus besar berbagai perubahan yang terjadi di dunia. Sekecil apa pun perubahan yang terjadi di belahan dunia lain akan langsung diketahui atau bahkan dirasakan akibatnya oleh Indonesia. Sebaliknya, sekecil apa pun peristiwa yang terjadi di Indonesia secara cepat akan menjadi bagian dari konsumsi informasi masyarakat dunia, pengaruh dari globalisasi ini berjalan begitu cepat dan mendalam.
Sanggupkah Pancasila menjawab berbagai tantangan tersebut? Jawabannya tentu akan berpulang kembali kepada bangsa Indonesia sendiri sebagai pemilik Pancasila. Namun demikian, kalaulah kemudian mencoba untuk mencari jawaban atas berbagai tantangan tersebut maka jawabannya adalah bahwa Pancasila akan sanggup menghadapi berbagai tantangan tersebut asalkan Pancasila benar-benar mampu diaplikasikan sebagai weltanschauung bangsa Indonesia. Implikasi Pancasila sebagai pandangan hidup maka bangsa / rakyat Indonesia haruslah mempunyai sense of belonging dan sense of pride atas Pancasila. Untuk menumbuhkembangkan kedua rasa tersebut maka melihat realitas yang tengah berkembang saat ini setidaknya dua hal mendasar perlu dilakukan.
1).     Penanaman kembali kesadaran bangsa tentang eksistensi Pancasila sebagai ideologi bangsa. Penanaman kesadaran tentang keberadaan Pancasila sebagai ideologi bangsa mengandung pemahaman tentang adanya suatu proses pembangunan kembali kesadaran akan Pancasila sebagai identitas nasional. Upaya ini memiliki makna strategis manakala realitas menunjukkan bahwa dalam batas-batas tertentu telah terjadi proses pemudaran kesadaran tentang keberadaan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Salah satu langkah terbaik untuk mendekatkan kembali atau membumikan kembali Pancasila ke tengah rakyat Indonesia tidak lain melalui pembangunan kesadaran sejarah.
2).     Perlu adanya kekonsistenan dari seluruh elemen bangsa, khususnya para pemimpin negeri ini untuk menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam berpikir dan bertindak. Janganlah sampai Pancasila ini sekadar wacana di atas mulut yang disampaikan secara berbusa-busa hingga menjadi basi, sementara di lapangan penuh dengan perilaku hipokrit. Dengan demikian penghayatan dan pengamalan sila-sila Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sudah merupakan suatu condition sine qua non bagi tetap tegaknya Pancasila sebagai ideologi bangsa.
Bung Karno sebagai penggali utama telah menyampaikan bahwa kelanggengan Pancasila sebagai ideologi bangsa sangat bergantung pada dua hal :
 1).    Secara intrinsik, lama atau tidak Pancasila dapat bertahan sebagai ideologi yang dapat mempengaruhi pola berpikir dan bertindak bangsa, terletak pada kualitas nilai-nilai fundamental yang terkandung di dalam Pancasila
2).     Secara ekstrinsik, bergantung pada penerimaan rakyat terhadap nilai-nilai dasar Pancasila dan implementasinya dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.
Pancasila tak sekadar rumusan filsafat hasil kecerdasan si pencetus, tapi lebih dari itu merupakan weltanschauung bangsa Indonesia. Ia merupakan hasil penggalian yang mendasar dari tradisi dan karakteristik sebuah bangsa. Karena itu yakin Pancasila merupakan philosofische groundslag  yang tepat bagi negara RI dan mampu menjadi guiding principles bagi rakyat Indonesia dalam meraih cita-citanya. Jika kita mau jujur dan berani mencermati kembali kondisi riil negara-negara, paling tidak ada tiga alasan yang mendukung pendapat bahwa Pancasila masih sangat dibutuhkan, yakni :
1).     Secara kodrati bangsa Indonesia memiliki tingkat pluralitas yang tinggi. Kondisi ini dapat memberikan implikasi positif bagi tumbuh dan berkembangnya negara dan bangsa, kalau rakyat dengan segala perangkat mampu mengelolanya. Namun jika salah pengelolaan, apalagi diperparah oleh ketiadaan "zat perekat'' bangsa, kemajemukan itu justru berisiko tinggi. Bahkan bukan tidak mungkin kehancuran negara akan terjadi. Karena itu, bangsa Indonesia harus berani melakukan reideologisasi terhadap Pancasila.
2).     Jika era ini diabstraksikan sebagai era ilmu pengetahuan dan teknologi, yang berarti secara substantif dan ekspansif iptek mampu mengubah gaya hidup manusia, maka sejalan dengan perkembangan masyarakat ia akan mengalami proses transformasi budaya dari tradisional ke modern. Dari mitos ke logos, dari nasional ke transnasional, lalu ke global mondial. Pada titik tertentu, manusia Indonesia dapat terombang-ambing, bahkan kehilangan jati diri, jika tidak memiliki pedoman hidup bernegara. Sehubungan dengan itu, dibutuhkan Pancasila sebagai ideologi yang telah mengaktualisasikan diri dengan cara mengintegrasikan norma-norma dasar, teori ilmiah, dan fakta objektif, sehingga memungkinkan berlangsung proses interpretasi dan reintepretasi secara kritis dan jujur. Tingkat akhir akan menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang dinamis, akomodatif, dan antisipatif terhadap kecenderungan zaman.
3).     Gelombang keoptimisan proses transformasi masyarakat tradisional ke masyarakat modern, ternyata masih menyisakan "bom-bom'' keresahan yang sewaktu-waktu meledak dan mematikan. Memang, fenomena modernitas menjanjikan kemudahan-kemudahan hidup, rasio terninabobokkan, lalu perburuan atas materi dan hedonisme diperbolehkan. Namun seiring dengan itu, beraneka ragam deviasi perilaku kelompok-kelompok masyarakat yang merefleksikan keterasingan dan kekosongan jiwa makin menyeruak ke permukaan. Sebab, fenomena modernitas lebih memuja kebendaan seraya meminggirkan nilai-nilai spiritualitas dan kemanusiaan. Karena itulah, sebagai komunitas bangsa yang inklusif, rakyat sungguh membutuhkan Pancasila sebagai ideologi humanitas semesta, yang mampu menjadi filter atas berbagai pengaruh negatif fenomena modernitas.

JANGAN TINGGALKAN PANCASILA
Pancasila sebagai roh dan ideologi NKRI sampai saat ini masih sangat relevan dan dibutuhkan, terutama bagi generasi muda untuk membangun bangsa yang bermartabat dan memiliki harga diri di mata dunia. Bung Karno dalam akhir pemerintahannya telah mengatakan bahwa “bangsa Indonesia akan mengalami kesulitan besar karena persoalan globalisasi, tantangan terbesar adalah melawan kapitalisme yang semakin meluas dan telah meruntuhkan komunisme sebagai suatu sistem,". Selanjutnya dalam hal lain mengatakan bahwa  "Suatu bangsa tidak akan hancur kecuali dihancurkan dari dalam bangsa itu sendiri".  
Reimplementasi ideologi bangsa, yaitu Pancasila, merupakan keharusan kultural. Implementasi sumber ideologi Pancasila dalam tertib hukum yang tegas dan dijalankan dengan profesionalitas, kesungguhan, dan dedikasi akan mengembalikan kepercayaan diri bangsa, perekat dasar kesatuan, dan semangat kebersamaan. Reimplementasi prinsip-prinsip Pancasila dan pola berpikir menjadi tolok ukur normatif yang memberanikan semua pihak bertindak adil dengan kepastian hukum. Reiimplementasi harus dilakukan dengan cara-cara yang smart sehingga animo generasi muda meningkat.
Keutuhan seluruh negeri harus dibingkai dengan perekat sumber ideologi yang menjiwai tiap produk hukum dan kebijakan serta tata tertib hidup bermasyarakat dan bernegara. Karena itu, reimplementasi sumber ideologi bangsa merupakan pembiasaan sosial dan kultural yang diperlukan guna menata kembali kebersamaan dan keutuhan hidup berbangsa Indonesia yang beradab, lebih adil-makmur dan berpengharapan.


Rabu, 06 Juni 2012


Tentang Allah, Tauhid dan Manunggaling Kawula Gusti SATU “Allah itu adalah keadaanku, kenapa kawan-kawan pada memakai penghalang?Sesungguhnya aku inilah haq Allah pun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang Allah,tetap dzahir batin Allah, kenapa kawan-kawan masih memakai pelindung?” (BabadTanah Sunda, Sulaeman Sulendraningrat, 1982, bagian XLIII).Ucapan spiritual Syekh Siti Jenar tersebut diucapkan pada saat para wali menghendakidiskusi yang membahas masalah Micara Ilmu tanpa Tedeng Aling-aling. Diskusi para wali diadakan setelah Dewan Walisanga mendengar bahwa Syekh Siti Jenar mulaimengajarkan ilmu ma’rifat dan hakikat. Sementara dalam tugas resmi yang diberikan oleh Dewan Walisanga hanya diberi kewenangan mengajarkan syahadat dan tauhid. Sementara menurut Syekh Siti Jenar justru inti paling mendasar tentang tauhid adalah manunggal, di mana seluruh ciptaan pasti akan kembali menyatu dengan yang menciptakan. Pada saat itu, Sunan Gunung Jati mengemukakan, “Adapun Allah itu adalah yang berwujud haq”; Sunan Giri berpendapat, “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas,dekatnya tanpa rabaan.”; Sunan Bonang berkata, “Allah itu tidak berwarna, tidak berupa, tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara, wajib adanya, mustahil tidak adanya.”; Sunan Kalijaga menyatakan, “Allah itu adalah seumpama memainkan wayang.”; Syekh Maghribi berkata, “Allah itu meliputi segala sesuatu.”;Syekh Majagung menyatakan, “Allah itu bukan disana atau disitu, tetapi ini.”; Syekh Bentong menyuarakan, “Allah itu itu bukan disana sini, ya inilah.”; Setelah ungkapan Syekh Bentong inilah, tiba giliran Syekh Siti Jenar dan mengungkapkan konsep dasar teologinya di atas. Hanya saja ungkapan Syekh Siti Jenar tersebut ditanggapi dengan keras oleh Sunan Kudus, yang salah menangkap makna ungkapan mistik tersebut,“Jangan suka terlanjur bahasa menurut pendapat hamba adapun Allah itu tidak bersekutu dengan sesama.”Mulai persidangan itulah hubungan Syekh Siti Jenar dengan para wali memanas, sebab Syekh Siti Jenar tetap teguh pada pendirian tauhid sejatinya. Sementara para Dewan Wali mengikuti madzhab resmi yang digariskan oleh kerajaan Demak, Sunni-Syafi’i. Sampai masa persidangan penentuannya, Syekh Siti Jenar tetap menyuarakan dengan lantang teologi manunggalnya bahwa, “Utawi Allah iku nyataning sun kang sampurna kang tetep ing dalem dhohir batin,” (bahwa Allah itu nyatanya aku yang sempurna yang tetap di dalam dzahir dan batin). Riwayat yang agak sama juga tercantum dalam Babad Cerbon, terbitan Brandes (1911) pada Pupuh 23, Kinanti bait 1-8. DUA “Jika ada seorang manusia yang percaya kepada kesatuan lain selain dari Tuhan yang Mahakuasa, ia akan kecewa karena ia tidak akan memperoleh apa yang ia inginkan.” (S.Soebardi, The Book of ebolek, hlm. 103). Menurut beberapa sumber, di antaranya Soebardi (1975), beberapa saat setelah Syekh Siti Jenar wafat, para wali mendengar suara yang berasal dari roh Syekh Siti Jenar yang berupa ungkapan mistik tersebut. Ungkapan mistik itu merupakan ungkapan terakhir dari sang sufi sebagai bukti bahwa sampai sesudah wafatnya, dia memperoleh apa yang diinginkannya, dan menjadi bukti kebenaran ajarannya, yakni kehidupan sejati dalam kesatuan; manunggaling kawula-Gusti. TIGA “… tidak usah kebanyakan teori semu, sesungguhnya ingsun inilah Allah. Nyata Ingsun Yang Sejati, bergelar Prabu Satmata, yang tidak ada lain kesejatiannya, yang disebut sebangsa Allah…” (R. Tanoyo: Walisanga, hlm. 124). Maksud bebas ungkapan tersebut adalah “tidak usah kebanyakan bicara tentang teori ketuhanan, sesungguhnya ingsun (aku sejati) inilah Allah. Yaitu Ingsun (Kedirian) Yang Sejati, juga bergelar Prabu Satmata (Tuhan Yang Maha Melihat, mengetahui segala-galanya), dan tidak boleh ada yang lain yang penyebutannya mengarah kepada Allah sebagai Tuhan”. EMPAT“Mungguh sajatine ananing zdat kang sanyata iku muhung ana anteping tekat kita,tandhane ora ana apa-apa, ananging kudu dadi sabarang sedya kita kang satuhu” [Sebenarnya, keberadaan dzat yang nyata itu hanya berada pada mantapnya tekad kita, tandanya tidak ada apa-apa, akan tetapi harus menjadi segala niat kita yang sungguh-sungguh]. (Serat Candhakipun Riwayat Jati, hlm. 1). Menurut Syekh Siti Jenar, keberadaan dzat hanya ada beserta kemantapan hati dalam merengkuh Tuhan. Dalam diri tidak ada apa-apa kecuali menjadikan menunggal sebagai niat dan yang mewarnai segala hal yang berhubungan dengan asma, sifat dan af’al Pribadi. Inilah di antara maksud utama ungkapan di atas. Jadi pemahaman atas ungkapan itu harus tetap berada dalam lingkup kemanunggalan. Kemanunggalan tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan perangkat syari’at dan tarekat. Apalagi sekedar syari’at lahiriyah (nominal). Kemanunggalan akan berhasil seiring dengan tekad hati dan keseluruhan Pribadi dalam merengkuh Allah, sebagaimana roh Allah pada awalnya ditiupkan atas setiap pribadi manusia. LIMA “…marilah kita berbicara dengan terus terang. Aku ini Allah. Akulah yang sebenarnya disebut Prabu Satmata, tidak ada lain yang bernama Allah…saya menyampaikan ilmu tertinggi yang membahas ketunggalan. Ini bukan badan, selamanya bukan, karena badan tidak ada. Yang kita bicarakan ialah ilmu sejati dan untuk semua orang kita membuka tabir [artinya membuka rahasia yang paling tersembunyi.]” (Serat Siti Jenar Asmarandana, hlm. 15, bait 20-22). ENAM “Tidak usah banyak tingkah, saya inilah Tuhan, Ya, betul-betul saya ini adalah Tuhan yang sebenarnya, bergelar Prabu Satmata, ketahuilah bahwa tidak ada bangsa Tuhan yang lain selain saya. …. Saya ini mengajarkan ilmu untuk betul-betul dapat merasakan adanya kemanunggalan. Sedangkan bangkai itu selamanya kan tidak ada. Adapun yang dibicarakan sekarang ini adalah ilmu yang sejati yang dapat membuka tabir kehidupan. Dan lagi, semuanya sama. Sudah tidak ada tanda secara samar-samar, bahwa benar- benar tidak ada perbedaan lagi. Jika ada perbedaan yang bagaimanapun, saya akan tetap mempertahankan tegaknya ilmu tersebut.” (Boekoe Siti Djenar, Tan Khoen Swie,hlm. 18-20). TUJUH “Jika Anda menanyakan dimana rumah Tuhan, jawabnya tidaklah sulit. Allah berada pada dzat yang tempatnya tidak jauh, yaitu bersemayam di dalam tubuh. Tetapi hanya orang yang terpilih yang bisa melihatnya, yaitu orang yang suci.” (Suluk Wali Sanga, R.Tanaja, hlm. 42-46).Ungkapan no. 5, 6, dan 7. Dinyatakan dalam sidang para wali yang dipimpin oleh Sunan Giri bertempat di Giri Kedaton. Penjelasan Syekh Siti Jenar bahwa dirinya bukan badan menanggapi pernyataan Maulana Maghribi yang bertanya, “Tetapi yang kau tunjukkan itu hanya badan.” Syekh Siti Jenar menyampaikan ajaran “ingsun” yang dikemukakan secara radikal, yang mengajarkan kesamaan tuntas antara sang pembicara dengan Allah. Ini sebagai efek dari berbagai pengalaman spiritualnya yang demikian tinggi, sehingga Manunggaling Kawula-Gusti juga meniscayakan adanya manunggalnya kalam (pembicaraan, sabda, firman). Adapun gelar Prabu Satmata memilki makna sama dengan Hyang Manon atau Yang Maha Tahu. Gelar tersebut juga diberikan kepada para Walisanga kepada Sunan Giri. Nampak bahwa Syekh Siti Jenar memiliki pendirian tegas, bahwa ilmu spiritual harus diajarkan kepada semua orang. Karena justru dengan membuka tabir itulah, orang akan mengetahui hakikat kehidupan dan rahasia hidupnya. DELAPAN “Syekh Lemah Abang namaku, Rasulullah ya aku, Muhammad ya aku, Asma Allah itu sesungguhnya diriku; ya Akulah yang menjadi Allah ta’ala.” (Wawacan Sunan Gunung Jati terbitan Emon Surya atmana dan T.D. Sudjana, Pupuh 38 Sinom, bait 13).Ungkapan mistik Syekh Siti Jenar tersebut menunjukkan, bahwa dalam teologi manunggaling kawula-Gusti, tidak hanya terjadi proses kefanaan antara hamba dan pencipta sebagaimana apa yang dialami oleh Bayazid al-Bustami dan Manshur al-Hallaj. Dalam kasus pengalaman mistik Syekh Siti Jenar, antara syahadat Rasul dan syahadat Tauhid ikut larut dalam kefanaan. Sehingga dalam pengalaman mistik manunggal ini, terjadi kemanunggalan diri, Rasul dan Tuhan. Suatu titik puncak pengalaman spiritual, yang sudah dialami oleh para ulama sufi sejak abad ke-9, yakni sejak fana’nya Bayazid al-Busthami, Junaid al-Baghdadi, “ana al-Haqq”-nya Manshur al-Hallaj, juga ‘Aynul Quddat al-Hamadani, dan Syaikh al-Isyraq Syuhrawardi al-Maqtul, dan akhirnya menemukan titik kulminasinya pada teologi Manunggaling Kawula-Gusti Syekh Siti Jenar. S E M B I L A N “Sesungguhnyalah, Lapal Allah yaitu kesaksian akan Allah, yang tanpa rupa dan tiadatampak, membingungkan orang, karena diragukan kebenarannya. Dia tidak mengetahuiakan diri pribadinya yang sejati, sehingga ia menjadi bingung. Sesungguhnya nama Allah itu untuk menyebut wakil-Nya, diucapkan untuk menyatakan yang dipuja dan menyatakan suatu janji. Nama itu ditumbuhkan menjadi kalimat yang diucapkan:“Muhammad Rasulullah”. Padahal sifat kafir berwatak jisim, yang akan membusuk, hancur lebur bercampur tanah.” “Lain jika kita sejiwa dengan Zat Yang Maha Luhur. Ia gagah berani, naha sakti dalam syarak, menjelajahi alam semesta. Dia itu Pangeran saya, yang menguasai dan memerintah saya, yang bersifat wahdaniyah, artinya menyatukan diri dengan ciptaan-Nya. Ia dapat abadi mengembara melebihi peluru atau anak sumpitan, bukan budi bukan nyawa, bukan hidup tanpa asal dari manapun, bukan pula kehendak tanpa tujuan.” “Dia itu yang bersatu padu menjadi wujud saya. Tiada susah payah, kodrat dan kehendak-Nya, pergi ke mana saja tiada haus, tiada lelah tanpa penderitaan dan tiada lapar. Kekuasan-Nya dan kemampuan-Nya tiada kenal rintangan, sehingga pikiran keras dari keinginan luluh tiada berdaya. Maka timbullah dari jiwa raga saya kearif-bijaksanaan tanpa saya ketahui keluar dan masuk-Nya, tahu-tahu saya menjumpai Ia sudah ada disana”. (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sastrawijaya, Pupuh IIIDandanggula, 45-48).Pernyataan di atas adalah tafsir sederhana dari sasahidan yang menjadi intisari ajaran Syekh Siti Jenar, dan landasan mistik teologi kemanunggalan. Kalimah syahadat yang hanya diucapkan dengan lisan dan hanya dihiasi dengan perangkat kerja fisik (pelaksanaan fiqih Islam dengan tanpa aplikasi spiritual), hakikatnya adalah kebohongan. Pelaksanaan aspek fisik keagamaan yang tidak disertai dengan implikasi kemanunggalan roh, sebenarnya jiwa orang itu mencuri, yakni mencuri dari perhatiannya kepada aspek Allah dalam diri. Itulah sebenar-benarnya munafik dalam tinjauan batin, dan fasik dalam kacamata lahir. Sebab manusia sebagai khalifah-Nya adalah cermin Ilahiyah yang harus menampak kepada seluruh alam. Sebagai alatnya adalah kemanunggalan wujudiyah sebagaimana terdapat dalam Sasahidan. Terdapat kesatupaduan antara Allah, Rasul dan manusia. Masing-masing bukanlah sesuatu yang saling asing mengasingkan. Kesejatian Hidup dan Kehidupan SEPULUH.“Rahasia kesadaran kesejatian kehidupan, ya ingsun ini kesejatian hidup, engkau sejatinnya Allah, ya ingsun sejatinya Allah; yakni wujud (yang berbentuk) itu sejatinya Allah, sir (rahsa=rahasia) itu Rasulullah, lisan (pangucap) itu Allah, jasad Allah badan putih tanpa darah, sir Allah, rasa Allah, rahasia kesejatian Allah, ya ingsun (aku) ini sejatinya Allah.” (Wejangan Walisanga: hlm. 5). Subtansi dari ungkapan spiritual tersebut adalah bahwa kesejatian hidup, rahasia kehidupan hanya ada pada pengalaman kemanunggalan antara kawula-Gusti. Dan dalam tataran atau ukuran orang ‘awam hal itu bisa diraih dengan memperhatikan uraian dan wejangan Syekh Siti Jenar tentang “Shalat Tarek Limang Waktu”.

Selasa, 21 Februari 2012

Aspek-aspek Revolusi Rusia

I. Apakah itu Bolshevisme?
Bolshevisme adalah Revolusi Sosial yang diidamkan oleh kaum Sosialis selama lebih setengah abad. Ia adalah perjuangan yang tidak dapat dielakkan, yang mesti mengiringi peralihan masyarakat dari Kapitalisme kepada Sosialisme. Ia adalah perjuangan terakhir para pekerja sedunia untuk kekuasaan demi menghapuskan pemerintahan kelas buat selama-lamanya, dan kemelaratan pengeksploitasian.

Sejarah adalah babad penghambaan kelas pekerja dalam pelbagai bentuk – penghambaan harta, perbudakan, penghambaan bergaji. Pada ketika-ketika tertentu, satu kumpulan pengeksploit telah meraih kekuasaan dari kumpulan yang lain – raja-raja dari paderi-paderi, baron-baron dari raja-raja, usahawan-usahawan dari baron-baron, plutokrat-plutokrat dari mereka semua; tetapi sentiasa para pekerja telah membanting tulang, dan sentiasa hasil usaha mereka telah dirampas daripada mereka.

Pelbagai percubaan telah dilakukan oleh para pekerja untuk menumbangkan pengeksplotasi mereka, dan untuk menikmati buah-buah usaha mereka, dalam kata-kata John Ball, “tanpa duit dan tanpa harga.” Setiap percubaan sehingga ini telah dihancurkan dalam darah dan api – pemberontakan-pemberontakan hamba di Rom, pembangkitan-pembangkitan Komunis pada Zaman Pertengahan, Komun Paris pada tahun 1871, dan Revolusi Rusia pada tahun 1905. Dalam Sosialisme, kelas pekerja buat kali pertama mendasarkan wawasan untuk kebebasannya pada fakta saintifik. Bolshevisme adalah Sosialisme dalam amalan. Pada hari ini, para pekerja sedang menyedari kekuatan dan kemampuan mereka untuk memenangi dunia demi Tenaga Pekerja. Mereka sentiasa memiliki kekuatan itu, dan kadang-kala hasratnya juga. Tetapi mereka tidak mempunyai kehendak hati dan pengetahuan cara. Bolshevisme adalah kehendak hati dan caranya.

Perkataan ‘Bolshevisme’, yang dapat diterjemahkan dengan bebas sebagai “rancangan majoriti”, berpunca di sebuah mesyuarat Parti Demokrasi Sosial Rusia pada tahun 1903, yang berpecah menjadi dua kumpulan – pihak majoriti (bolshinstvo) memeluk prinsip-prinsip yang, selepas pengalaman sebenar Revolusi 1905, berkembang menjadi apa yang kita kini memanggil Bolshevisme. Idea utama kaum Bolsheviki pada masa itu adalah bahawa masa ini adalah zaman revolusioner – zaman apabila perjuangan kelas pekerja berubah menjadi revolusi terbuka; bahawa kuasa Tentera Kapitalisme terletak dalam fakta bahawa pengaturannya adalah terpusat, dan dipimpin oleh seorang Jeneral Pegawai – dan bahawa untuk menumbangkan Kapitalisme, Tentera Kelas Pekerja juga perlu diatur secara terpusat, dengan Jeneral Pegawainya sendiri. Pegawai Tentera Kapitalisme ditadbir oleh pihak kapitalis, demi kepentingan minoriti. Pegawai Kelas Pekerja berjuang di bawah arahan dan kepentingan majoriti – iaitu para pekerja.

Di mesyuarat ini, kaum minoriti (menshinstvo) – selepas itu dikenali sebagai kaum Mensheviki – berpendapat bahawa kelas pekerja pada masa itu tidak mempunyai pengetahuan untuk menumbangkan Kapitalisme, mahupun kemampuan untuk mewujudkan susunan sosial baru; dan, maka, bahawa Revolusi Sosial adalah mustahil buat seketika. Lebih-lebih lagi, mereka memercayai bahawa Sosialisme patut dicapai melalui ‘pendidikan’ dan tindakan politik ‘demokratik.’

Bolshevisme adalah bersifat amalan. Ia tidak menganggap bahawa kelas kapitalis akan dikeluarkan dari kekuasaan tanpa perjuangan. Kekuasaan adalah didasarkan pada permilikan swasta. Untuk menjamin kekuasaan, para pekerja mesti menguasai harta kapitalis, dan membasmikan permilikan. Ini mereka hanya dapat melakukan dengan kekuasaan – melalui Pemerintahan Diktator oleh Proletariat.

Pada hari ini, para pekerja dari kesemaua negara sedang mengambil keputusan untuk mengakhiri Kapitalisme. Bolshevisme mendesak bahawa ia adalah kaum Sosialis, iaiti pemikir revolusioner terlatih, yang mesti menunjukkan jalan, dan memimpin para pekerja pada jalan itu.

Seperti yang dikatakan oleh Lenin, “Jika Sosialisme hanya dapat diwujudkan apabila perkembangan intelek rakyat membenarkannya, maka kita tidak akan melihat Sosialisme sekurang-kurangnya buat lima ratus tahun… Parti politik Sosialis – inilah barisan hadapan kelas pekerja; ia tidak dapat membenarkan dirinya dihalang oleh kekurangan pendidikan purata rakyat jelata, tetapi ia mesti menjadi rakyat jelata menggunakan Soviet-Soviet sebagai organ-organ inisiatif revolusioner…”

Soviet-Soviet adalah badan-badan perwakilan bagi majoriti besar kelas pekerja yang tersusun. Tanpa sokongan tanpa ragu-ragu majoriti luas ini, pemimpin-pemimpin revolusioner tidak dapat mencapai apa-apa. Bolshevisme di Rusia berjaya hanya kerana rakyat sudah bersedia untuk mengikutinya. Bolshevisme didirikan pada hari ini di Rusia kerana ia disokong oleh sebahagian besar daripada rakyat Rusia.

Jika ini tidak benar, kaum Bolsheviki sudah akan menghentikan Revolusi Rusia lebih awal. Kuasa mereka adalah berdasarkan Soviet-Soviet, bagi siapa semua orang yang hidup dengan bekerja dapat mengundi – dan wakil-wakilnya tertakluk kepada pemanggilan balik terus-menerus. Soviet-Soviet tempatan berjumpa dengan kerap, dan mungkin dipanggil untuk mesyuarat tambahan dengan amaran pendek, kerana pengundi, iaitu petani atau pekerja, sentiasa terhimpun bersama di ladang-ladang atau di kilang-kilang. Kongres Soviet Se-Rusia, yang terdiri daripada lebih 2,500 orang ahli, berjumpa setiap tiga bulan, di mana Kerajaan bersara secara automatik dan sebuah Kerajaan baru diundi, yang bertanggungjawab kepada Kongres dan Majlis Eksekutif Pusat. Dan pada masa-masa lain, kesemua atau mana-mana ahli Kerajaan dapat dipanggil balik daripada pejabat dengan senang.

Komonwel Sosialis tidak dilahirkan tanpa kesakitan kelahiran yang menakutkan – Pemerintahan Diktator oleh Proletariat. Rusia pada hari ini bukanlah Komonwel Sosialis – dan tidak berpura-pura seperti itu. Sememangnya terdapat Pemerintahan Diktator oleh Proletariat, terlibat dalam mengusahakan perjuangan terakhir kelas pekerja menentang kelas-kelas kapitalis – namun, bukannya terhadap kelas kapitalisnya sendiri, kerana itu telah dikalahkan, tetapi terhadap Kapitalisme Antarabangsa. Sehingga Kapitalisme Antarabangsa ditumbangkan, Pemerintahan Diktator oleh Proletariat tidak akan, tidak dapat, berakhir.

Namun, pada masa ini, Republik Soviet Rusia, yang dibantutkan oleh kekurangan pendidikan rakyat selama beberapa abad oleh kerana pemerintahan zalim dalam kegelapan, dan terlibat dalam usaha mempertahankan dirinya daripada dunia, sudah telah mencapai beberapa kejayaan dalam menyusun industri, pertanian dan pendidikan – hanya memberi kiasan bagi kejayaan-kejayaan hebat susunan baru, apabila penghapusan halangan kapitalis akhirnya membebarkan kebijaksanaan kreatif para pekerja.

Apabila kelas pekerja, iaitu lapisan asas masyarakat, menghela bahu besarnya, seluruh mahastruktur Kapitalis meretak dan jatuh dalam kebinasaan.

Di depan mata kita sendiri, negara demi negara ditarik masuk ke dalam aliran Revolusi Sosial, dengan Bolshevisme di kepalanya.

Bolshevisme adalah Sosialisme yang telah tiba di titik revolusi sosial – di pemerintahan diktator oleh proletariat yang diramalkan oleh Karl Marx.

Matlamat pemerintahan diktator oleh proletariat adalah untuk merampas kuasa kelas kapitalis dan mengagihkannya kepada para pekerja. Ia tidak mempunyai apa-apa matlamat lain.

Cara-cara dan kesesuaian yang ia mesti menggunakan adalah berbeza mengikut keadaan-keadaan. Di Rusia pada hari ini, setengah daripada kekuatan pemerintahan diktator oleh proletariat digunakan untuk mempertahankan dirinya daripada serangan-serangan Kapitalisme Antarabangsa. Tetapi dalam polisi-polisi luar dan dalam, Kerajaan Soviet Rusia disokong oleh majoriti rakyat – petani mahupun pekerja industri.


2. Bolshevisme dan Revolusi Rusia
Bolshevisme telah menyelamatkan Revolusi Rusia. Bagi rakyat Rusia, Revolusi itu bermaksud Kedamaian, Tanah bagi para petani, dan kawalan industri oleh para pekerja. Kelas-kelas yang memiliki harta enggan melepaskan harta mereka; dan kaum Sosialis ‘sederhana,’ yang berpakat dengan pemilik-pemilik tanah dan pihak kapitalis, tidak dapat menjayakan hasrat rakyat. Hanya sebuah kerajaan yang terdiri daripada dan untuk pekerja dan petani secara eksklusif dapat memuaskan tuntutan-tuntutan ini.

Kaum Bolsheviki menyarakan sebuah Kerajaan seperti ini, dan menjadikan tuntutan-tuntutan awam ini dasar bagi rancangan mereka.

Dan sejarah Revolusi Rusia adalah babad kebangkitan rakyat jelata kepada realiti-realiti politik keadaan tersebut.

Penumbangan pemerintahan Tsar, pada bulan Mac 1917, dicapai oleh tindakan spontan oleh rakyat jelata. Pihak borjuasi Liberal tidak melibatkan diri dalam Revolusi itu. Hanya selepas Revolusi itu berjaya, baru mereka memasukinya, melalui Kerajaan Sementara, dan mencuba untuk mengikatnya bagi kegunaan meluaskan Kapitalisme.

Sementara itu, rakyat jelata sendiri sedang beratur. Pada 14hb Mac, Soviet Timbalan Pekerja dan Askar melaungkan: “Bersama-sama, kita akan berjuang untuk penumbangan Kerajaan lama.”

Maka, Soviet-Soviet, yang mewakili pekerja, askar dan petani dengan benar, kelihatan sebagai Kerajaan tulin rakyat – yang, jika ia tidak dipesongkan oleh pihak Sosialis ‘sederhana,’ dapat menjadi Kerajaan Rusia pada awal dalam Revolusi tersebut. Inilah yang tidak pernah dilepaskan oleh kaum Bolsheviki, dengan laungan mereka, “Segala Kekuasaan kepada Soviet!”

Pihak Mensheviki dan Revolusioner Sosialis menguasai Soviet-Soviet; pada awalnya, mereka mengumumkan bahawa Soviet-Soviet akan menjadi “pistol di kepala Kerajaan Sementara, untuk memaksanya menyimpan janji-janjinya.” – tetapi mereka akhirnya memberikan sokongan kepada Kerajaan Sementara dan mencuba membasmikan Soviet-Soviet.

Pihak Sosialis ‘sederhana’ berpegang bahawa, oleh kerana kemunduran ekonomi Rusia, Revolusi hanya dapat menjadi Revolusi politik – bukannya Revolusi sosial. Maka, secara semulajadi, sebuah kerajaan kapitalis perlu didirikan lebih dahulu di Rusia. Tanpa memercayai rakyat jelata dan diri mereka sendiri, mereka enggam merampas kuasa bagi Soviet-Soviet.

Menteri-menteri kapitalis, menyedari kelemahan mereka, mengancam untuk bersara kecuali jika pemimpin-pemimpin Soviet memasuki Kerajaan. Pihak Sosialis ‘sederhana’ mengikut arahan itu; pada 19hb Mei, Kabinet Persekutuan pertama ditubuhkan – yang, dengan kehidupan ekonomi masih dikawal oleh kapitalis-kapitalis, menjadi pihak Mensheviki dan Revolusioner Sosialis penyelamat-penyelamat Kapitalisme di Rusia.

Kerana pihak Sosialis ‘Sederhana’ memerlukan pihak kapitalis lebih banyak daripada pihak kapitalis memerlukan pihak Sosialis ‘Sederhana.’

Dipaksa oleh sikap rakyat, pemimpin-pemimpin Soviet mengisytiharkan syarat-syarat kedamaian Rusia: “Tidak ada penjajahan, tidak ada pampasan, hak penentuan sendiri bagi rakyat-rakyat.” Tetapi Kerajaan Sementara telah meluluskan perjanjian-perjanjian sulit yang dibuat di antara pemerintah Tsar dan kuasa-kuasa Sekutu Eropah, dan pihak Sosialis ‘sederhana’ terus menyokong peperangan yang mereka sendiri telah mengutuk sebagai “pembunuh imperialis tanpa erti.” Selepas tawar-menawar kaum imperialis Sekutu-Sekutu dan dan Rusia, mereka memberikan persetujuan kepada serangan Julai, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Revolusi, dan mengakibatkan keputusan asa tentera Rusia. Bergantung kepada pihak Kapitalis, mereka disingkirkan kepada usaha merayu kaum imperialis Rusia dan Sekutu-Sekutu untuk menjerumuskan matlamat-matlamat imperialis mereka – dan diabaikan dengan kehinaan.

Dalam tangan sebelah, pihak Sosialis ‘sederhana’ dalam Kerajaan tidak dapat mencapai apa-apa menuju penyelesaian masalah-masalah Tanah dan Industri. Sebenarnya, pergantungan mereka pada pihak kapitalis memaksa mereka bertindak menentang rakyat: Menteri ‘Sosialis’ Kerensky, memperkenalkan semula hukum bunuh dalam tentera; Menteri ‘Sosialis’ Avksentiev, menghantar askar Cossack untuk menindaskan pemberontakan-pemberontakan menentang tuan-tuan tanah; Menteri ‘Sosialis’ Nikitin memecahkan permogokan pekerja keretapi; Menteri ‘Sosialis’ Skobeliev mencuba membasmikan Majlis-Majlis Pekerja.

Sambil mendiamkan hasrat rakyat jelata, pihak Sosialis ‘sederhana’ memberikan pihak kapitalis peluang untuk mengatur dan mencuba menumbangkan Revolusi dengan keganasan – iaitu melalui revolusi-balasan Kornilov.

Ini menghapuskan kepercayaan terakhir rakyat kepada pihak Sosialis ‘sederhana.’ Di sebalik Kornilov dapat dilihat dengan jelas buku lima terpaku kelas-kelas berharta; dan namun, berhadapan kemarahan pahit seluruh negara, pihak Sosialis ‘sederhana’ terus mendesak pembentukan sebuah Kerajaan baru dengan kelas-kelas berharta yang sama!

Apabila kaum Bolsheviki merampas kuasa pada bulan November, tentera sedang mengalami kebuluran dan keputusan asa; tidak terdapat makanan di bandar-bandar; pengangkutan telah dihentikan; permogokan, rusuhan dan masalah pertanian bermaharajalela; kaum kapitalis, dalam Majlis Republik Rusia lebih kuat daripada dahulu; dan Sosialis ‘sederhana’ memberitahu rakyat: “Kami tidak dapat melakukan apa-apa – tunggulah untuk Majlis Perlembagaan!”

Kaum Bolsheviki memberitahu rakyat:

“Pihak Mensheviki dan Revolusioner Sosialis menjanjikan anda Kedamaian, Tanah dan Kawalan Perindustrian lapan bulan yang lalu. Kini mereka menyuruh anda menunggu Majlis Perlembagaan.

“Seperti dengan Kerajaan Sementara, Majlis Perlembagaan adalah perluahan hubungan-hubungan kelas yang sedia ada. Jika pihak kapitalis menguasai Rusia, Majlis Perlembagaan akan melaksanakan hasrat mereka atau dibubarkan. Jika kelas pekerja menguasai Rusia, Majlis Perlembagaan mesti melaksanakan hasrat kita.

“Seluruh struktur Kerajaan dibina untuk melayani dan menjaga Kapitalisme; ia tidak dapat melakukan apa-apa selain itu.

“Anda mesti merampas kuasa, musnahkan seluruh bangunan politik, dan bina sebuah bangunan baru, dikuasi oleh diri anda sendiri, dan disesuaikan untuk melayani kelas pekerja sahaja. Nasib baik, anda sudah mempunyai satu yang sedia – Soviet-Soviet. Segala kuasa kepada Soviet!”

Pada 7hb November 1917, Soviet-Soviet – yang sementara itu telah memperkembangkan majoriti Bolshevik – merampas kuasa Kerajaan. Dan Kerajaan Sementara, disokong oleh Sosialis ‘sederhana,’ tidak dapat menyeru Rusia kepada bantuannya melainkan beberapa orang Cossack, junker dan Penyelamat Putih!

Majlis Perlembagaan, diundi dari senarai-senarai calon yang dilukiskan empat bulan lebih awal, dengan tepat mencerminkan ‘persekutuan’ di antara kapitalis dan Sosialis ‘sederhana’ yang berada dalam kekuasaan pada masa itu. Ia enggan mengesahkan Kerajaan Rakyat Soviet-Soviet, mahupun tuntutan-tuntutan popular. Maka rakyat membubarkannya dan pembubaran itu tidak membawa walau sedikit pun riak pemberontakan di kalangan rakyat Rusia; hanya kaum ‘intelek Sosialis’ dan akhbar New York Times membantah.

Beberapa bula yang lalu, tujuh puluh ahli Majlis Perlembagaan yang masih kekal, dengan Presidennya, Victor Tchernov, menjadi ahli Kerajaan Soviet. Mana-mana tentangan terhadap Bolshevisme berdasarkan Majlis Perlembagaan adalah sah lagi.

Bolshevisme sedang menyebar ke seluruh Eropah. Di setiap negara di dunia ia telah menangkap imaginasi para pekerja yang sedar. Ia menghancurkan Jerman Imperialis; katanya Jeneral Jerman, Hoffman, dalam temuramah baru-baru ini, “Kami tidak menggunakan Bolshevisme. Bolshevisme menggunakan kami!”

* * * * * *

Apa-apa perbincangan mengenai Perjanjian Kedamaian Brest-Litovsk kini adalah akademik semata-mata. Ia telah mencapai matlamatnya untuk memberikan Rusia Soviet waktu rehat untuk bersedia untuk peperangan Revolusi – iaitu peperangan propaganda – yang akhirnya mengakibatkan kekalahan Jerman Imperialis, dan telah memenangi kembali bagi Rusia segala kawasan ‘terampas,’ yang belum diserang atau dipegang oleh Kerajaan-Kerajaan yang dibiayai oleh Sekutu-Sekutu.

Tidak terdapat apa-apa lagi untuk dilakukan oleh kaum Bolsheviki melainkan membuat kedamaian. Apabila Soviet-Soviet mengambil kuasa, oleh kerana polisi zalim Kerajaan-Kerajaan Sementara, tidak terdapatnya Tentera Rusia.

Ini diakui oleh setiap parti; oleh Menteri Peperangan kepada Kerensky, Jeneral Verkovsky, apabila, pada 2hb November, dia mengumumkan bahawa tentera Rusia tidak lagi dapat berjuang; oleh Dan, yang mewakili Sosialis ‘sederhana’ semasa mesyuarat terakhir Majlis Eksekutif Soviet-Soviet Pusat lama pada 6hb Novemner, apabila dia berkata, “Malangnya, Rusia tidak lagi dapat menyokong penerusan peperangan. Kedamaian akan berlaku, tetapi bukannya kedamaian berterusan – bukannya kedamaian demokratik”; dan akhirnya oleh Mahlis Perlembagaan malang sendiri.

Tindakan-tindakan pertama Kerajaan Bolshevik merupakan untuk mencadangkan kepada setiap negara, sebanyak tiga kali, untuk membincang mengenai kedamaian demokratik umum. Jemputan ini tidak dipedulikan, lalu meninggalkan satu-satunya pilihan bagi Kerajaan Soviet untuk membuat kedamaian asing dengan Jerman.

Trotsky ingin memanjangkan perbincangan selama yang dapat, supaya, pertama sekali, rakyat negara-negara Sekutu dapat melihat ketulusan Kerajaan Soviet dan memaksa Kerajaan-Kerajaan mereka untuk mengikuti Mesyuarat tersebut; dan kedua, agar proletariat Jerman mungkin diseru kepada revolusi.

Teori Lenin merupakan: “Sekutu-Sekutu dikuasai oleh pihak Imperialis. Proletariat Jerman belum lagi bersedia untuk bangkit. Kita perlu menandatangani kedamaian. Jika kita tidak menerima syarat-syarat kedamaian yang ditawarkan, maka kita akan dipaksa menerima syarat-syarat yang lebih buruk kemudian. Dan tidak mengira berapa ramai orang memercayai ketulusan kami, ketika apabila kita menandatangani perjanjian kedamaian, kita akan dituduh sebagai ejen Jerman oleh borjuasi di seluruh dunia.”

Rancangan Trotsky dipupuk – dan ramalan Lenin berlaku.

Kata Lenin: “Kami dipaksa menandatangani ‘kedamaian Tilsit’… Kedamaian Tilsit (Napoleon, 1807) merupakan kemaluan Jerman terbesar, dan pada masa yang sama, titik permulaan bagi pembangkitan kebangsaan hebat…

“Oleh kerana borjuasi Inggeris-Perancis dan Amerika berharap mendirikan semula barisan peperangan Timur sekali lagi dengan menarik kami ke dalam pusaran air peperangan, mereka enggan menghadiri mesyuarat kedamaian, dan memberi sokongan untuk memaksa syarat-syarat memalukannya ke dalam kerongkong rakyat Rusia. Ia terletak dalam kuasa negara-negara Sekutu untuk menjadikan perjanjian Brest-Litovsk barisan depan bagi kedamaian umum. Ia adalah salah untuk mereka meletakkan kesalahan bagi kedamaian Rusia-Jerman pada bahu kami…

“Kami berada dalam kubu lemah selagi mana-mana Revolusi Sosial antarabangsa tidak membantu kami dengan tentera-tentera mereka. Tetapi tentera-tentera ini wujud, ianya lebih kuat daripada tentera kami. Mereka bertumbuh, mereka berjuang, mereka menjadi lebih kuat semakin Imperialisme berterusan dengan kezalimannya. Para pekerja di seluruh dunia sedang memutusakan hubungan dan pengkhianat mereka, dengan Gomepers dan Scheidemann. Tanpa dapat dielakkan, tenaga pekerja sedang mendekati taktik-taktik Komunis Bolshevik – sedang bersedia untuk revolusi proletariat yang dapat mengekalakn adat dan umat manusia daripada kebinasaan.

“Kami tidak dapat dikalahkan. Revolusi proletariat tidak dapat dikalahkan.”


3. Pemerintahan diktator proletariat dan demokrasi
Revolusi Sosial telah tiba. Perjuangan terakhir bagi kelas pekerja demi kekuasaan dunia kini sedang diperjuangkan di Rusia. Lenin berkata, semasa Kongres Soviet-Soviet Ke-empat, pada bulan Mac 1918:

“Perang saudara telah membawa tentangan nekad oleh kelas-kelas berharta, yang sedar bahawa ini akan menjadi konflik terakhir lagi penentuan bagi pengekalan permilikan swasta ke atas tanah dan cara-cara pengeluaran, tetapi belum mencapai kemuncaknya. Dalam konflik ini, kejayaan Soviet-Soviet sudah past, tetapi buat seketika, usaha-usaha kami yang paling gigih akan diperlukan. Masa tidak teratur tidak dapat dielakkan – itulah yang berlaku dalam setiap peperangan, lebih-lebih lasgi dalam perang saudara – sebelum tentangan borjuasi dipatahkan.” Sehingga tentangan ini dipatahkan – sehingga kelas kapitalis dihapuskan melalui rampasan hartanya dan pembasmian permilikan swasta, demokrasi adalah mustahil. Pemerintahan Diktator oleh Proletariat merupakan satu-satunya cara melalui mana ini dapat dicapai. Daan apabila kelas kapitalis telah melesap, Pemerintahan ini juga melesap secara automatik.

Di setiap negara, keadaan peperangan wujud di antara kelas pekerja dan pihak kapitalis. Di kebanyakan negara, Pemerintahan Diktator oleh Kapitalis menindas para pekerja dengan ganas, tetapi tidak dapat membasmikan mereka, kerana para pekerja tidak dapat diketepikan. Di Rusia, Pemerintahan Diktator oleh Proletariat sedang membasmikan Kapitalisme – kerana pihak kapitalis tidak diperlukan oleh masyarakat.

Demokrasi politik adalah palsu.

Negara-negara moden mempunyai dua kerajaan; kerajaan politik, di mana setiap orang mempunyai undi secara teori – dan kerajaan ekonomi, di mana golongan minoriti yang memiliki industri dan mengawal pengeluaran adalah pemerintah autokrat ke atas berjuta-juta orang pekerja. Polisi-polisi kerajaan ‘demokratik’ ditentukan oleh ‘kepentingan-kepentingan’ ini. Woodrow Wilson, dalam ‘Kebebasan Baru’ dia, menunjukkan ini apabila dia berkata bahawa Kerajaan Amerika Syarikat terletak dalam tangan perusahaan-perusahaan besar.

Demokrasi politik hanya bermakna bahawa setiap orang dapat mengundi bagi sebuah Kerajaan yang perlu melayani ‘kepentingan-kepentingannya.’

“Kuasa politik, dengan namanya yang betul,” kata Manifesto Komunis, “hanyalah kuasa tersusun satu kelas yang menindas kelas yang lain.” Pertubuhan-pertubuhan kerajaan ‘demokratik’ moden dicipta untuk menjaga dan mengekalkan pengeksploitasian para pekerja oleh pihak kapitalis. Maka, jika kelas pekerja dapat merampas kuasa politik melalui majoriti undi, kuasa itu hanya dapat terus mengeksploitasikan para pekerja – kecuali jika ekonomi industri dirampas dari kelas kapitalis. Pihak kapitalis akan menentang ini dengan ganas – seperti yang mereka telah melakukan pada masa yang lalu – seperti mereka sedang melakukan di Rusia dan Jerman pada hari ini.

Tetapi ia adalah mustahil untuk para pekerja mengambil kuasa kerajaan melalui jentera demokrasi politik. Mereka mesti merampas industri dengan kuasa, membasmi bentuk kerajaan yang sedia ada, dan mendirikan kerajaan baru demi kepentingan kelas mereka sendiri. Kerajaan ini – Pemerintahan Diktator oleh Proletariat – akan merampas harta kapitalis dan merampas hak mengundi dari semua mereka yang enggan bekerja. Apabila kelas kapitalis dihapuskan, peperangan di antara pekerja dan pihak kapitalis akan berkahir, kelas-kelas akan melesap, dan demokrasi akan mengikuti, berdasarkan kesama-rataan dan kebebasan individu.

Demokrasi tulin mesti bertindak mengikut kepentingan masyarakat secara menyeluruh. Bentuk kerajaan kam sendiri adalah contoh jelas sebuah Kerajaan yang direka untuk mempertahankan kepentingan sebuah minoriti – iaitu kelas kapitalis. Walaupun kelihatan seperti demokrasi dalam bentuk, Perlembagaan Amerika Syarikat direka dengan sengaja, oleh tuan-tuan tanah, pedagang-pedagang dan ahli-ahli spekulasi, untuk mendirikan dan menjaga hak-hak harta mereka dan untuk mendiamkan hasrat majoriti rakyat.

Revolusi-revolusi tidak pernah dimulakan oleh majoriti orang – malah Revolusi Amerika tidak dimulakan oleh majoriti – tetapi mereka mesti memiliki kuasa untuk menumbangkan kelas pemerintah. Pada masa yang lalu, revolusi-revolusi yang berjaya sentiasa menggantikan pemerintahan satu kelas minoriti oleh kelas minoriti yang lain. Ciri Revolusi Sosial yang kini berlangsung adalah bahawa ia menghapuskan setiap jenis pemerintahan kelas.

Tetapi Revolusi Sosial juga tidak akan – tidak dapat dimulakan olej majoriti. Ia dimulakan oleh majoriti sebuah kelas – proletariat yang sedar dan tekun, dan aliran Revolusi sendiri membangunkan semakin ramai pekerja kepada kesedaran kepentingan mereka, dan menarik mereka ke dalam vorteks pemberontakan.

Tidak terdapatnya sebab mengapa kuasa-kuasa revolusioner perlu mewakili majoriti mutlak. Malah apabila ianya memeluk majoriti luas kelas pekerja, tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan Pemerintahan Diktator oleh Proletariat tidak akan didasarkan pada demokrasi, tetapi pada kedudukan kelas proletariat menentang kedudukan kelas kapitalis. Di Rusia, Pemerintahan Diktator oleh Proletariat tidak dapat kekal selama sejam jika ia tidak berhubungan dengan golongan revolusioner secara berterusan melalui Soviet-Soviet, memimpin walaupun dikawal oleh hasrat popular luas.

Pihak Sosialis sederhana – dan kaum borjuasi – menuduk kaum Bolsheviki dengan menyeru Sosialisme serta-merta, bulat dan sempurna. Betapa gilanya ini! Pemerintahan Diktator oleh Proletariat mesti kekal sehingga Kapitalisme dibasmikan. Kapitalisme adalah antarabangsa; Kapitalisme dunia perlu dihapuskan sebelum Pemerintahan Diktator oleh Proletariat di satu negara diakhiri.

Karl Marx pernah mengatakan, “Proletariat yang berjaya tidak dapat merampas jentera Kerajaan yang sedia ada dan menggunakannya untuk tujuan-tujuannya sendiri.” Ia perlu membina pertubuhan-pertubuhan baru, bukannya berdasarkan pemerintahan ke atas manusia, tetapi pentadbiran benda.

Di Rusia, ia tidak dapat dinafikan bahawa golongan majoriti menginginkan Kedamaian, Tanah dan Kawalan Industri oleh Pekerja. Dari segi di mana ia tidak mempunyai tujuan melainkan untuk memuaskan hasrat rakyat, Pemerintahan Diktator oleh Proletariat adalah demokratik. Dari segi bahawa ia enggan mengambil pendapat pihak ketenteraan, tuan-tuan tanah dan usahawan-usahawan mengenai perihal ini, Pemerintahan Diktator oleh Proletariat menolaj ‘demokrasi.’

* * * * *

Pemerintahan Diktator oleh Proletariat adalah ‘kuasa politik.’ Tujuannya hanyalah untuk membasmikan kelas kapitalis. Kuasa politik pihak kapitalis tidak dapat membasmikan para pekerja – para pekerja adalah penting bagi masyarakat; tetapi Pemerintahan Diktator oleh Proletariat dapat membasmikan pihak kapitalis, kerana mereka tidak diperlukan.

Dikalahkan dalam permainan mengoyak ungkapan-ungkapan Marxsis dari keadaannya, pihak sederhana, apabila mereka melintas sesuatu dalam Marx yang tidak sejajar dengan teori-teori mereka, menjelaskan bahawa dia menulis dengan silap. ‘Pemerintahan Diktator oleh Proletariat’ misalnya, ditulis secara ‘kebetulan’ – “hanya ungkapan semata-mata”; Marx sebenarnya tidak memaksudkannya.

Nampaknya pihak sederhana tidak menyedari di mana ungkapan itu ditulis, jadi mereka memberi kiasan bahawa ia adalah sebahagian daripada Manifesto Komunis, yang ditulis pada tahun 1847. Mereka mungkin memetik beberapa ayat – dikoyakkan daripada konteksnya – dari Perang Saudara di Perancis, ditulis pada tahun 1870, untuk membuktikan bahawa Marx telah mengubah fikirannya.

Sebenarnya, ‘Pemerintahan Diktator oleh Proletariat’ ditulis dalam sebuah dokumen lima tahun lebih awal – Kritikan Terhadap Rancangan Gotha, pada tahun 1875. Marx pada masa itu sudah matang; dia tidak lagi mencari ‘idiom-idiom ganjil’; dia ingin meluahkan dirinya dengan jelas dan tetap – dan dia melakukannya sedemikian.

“Di antara masyarakat kapitalis dan komunis terletak masa peralihan revolusioner dari satu ke yang satu. Ini adalah sejajar dengan masa peralihan politik, di mana Kerajaan tidak dapat menjadi apa-apa melainkan pemerintahan diktator oleh proletariat.”

Ini menghuraikan Kerajaan Rusia Soviet dengan tepat.

Seperti yang dikatakan oleh Marx:

“Mereka (kaum proletariat) tidak mempunyai apa-apa untuk menjaga dan untuk mengukuhkan; misi mereka adalah untuk memusnahkan segala kesemalatan dan penjagaan bagi harta swasta…”

“Pendek kata, anda (borjuasi) menuduh kami dengan ingin memusnahkan segala harta harta. Memang tepat; itulah yang kami ingin melakukan…”

“Pembasmian sifat individu borjuasi, kebebasan borjuasi dan kemerdekaan borjuasi sudah pasti disasarkan…”

Dan begitu juga dengan ‘demokrasi’ borjuasi!







Oleh John Reed

Diterbitkan buat kali pertama pada 12hb Julai 1919 dalam The Revolutionary Age

Diterjemahkan oleh Muhammad Salleh (Mac 2002)

Aspek-aspek Revolusi Rusia

Aspek-aspek Revolusi Rusia





I. Apakah itu Bolshevisme?
Bolshevisme adalah Revolusi Sosial yang diidamkan oleh kaum Sosialis selama lebih setengah abad. Ia adalah perjuangan yang tidak dapat dielakkan, yang mesti mengiringi peralihan masyarakat dari Kapitalisme kepada Sosialisme. Ia adalah perjuangan terakhir para pekerja sedunia untuk kekuasaan demi menghapuskan pemerintahan kelas buat selama-lamanya, dan kemelaratan pengeksploitasian.

Sejarah adalah babad penghambaan kelas pekerja dalam pelbagai bentuk – penghambaan harta, perbudakan, penghambaan bergaji. Pada ketika-ketika tertentu, satu kumpulan pengeksploit telah meraih kekuasaan dari kumpulan yang lain – raja-raja dari paderi-paderi, baron-baron dari raja-raja, usahawan-usahawan dari baron-baron, plutokrat-plutokrat dari mereka semua; tetapi sentiasa para pekerja telah membanting tulang, dan sentiasa hasil usaha mereka telah dirampas daripada mereka.

Pelbagai percubaan telah dilakukan oleh para pekerja untuk menumbangkan pengeksplotasi mereka, dan untuk menikmati buah-buah usaha mereka, dalam kata-kata John Ball, “tanpa duit dan tanpa harga.” Setiap percubaan sehingga ini telah dihancurkan dalam darah dan api – pemberontakan-pemberontakan hamba di Rom, pembangkitan-pembangkitan Komunis pada Zaman Pertengahan, Komun Paris pada tahun 1871, dan Revolusi Rusia pada tahun 1905. Dalam Sosialisme, kelas pekerja buat kali pertama mendasarkan wawasan untuk kebebasannya pada fakta saintifik. Bolshevisme adalah Sosialisme dalam amalan. Pada hari ini, para pekerja sedang menyedari kekuatan dan kemampuan mereka untuk memenangi dunia demi Tenaga Pekerja. Mereka sentiasa memiliki kekuatan itu, dan kadang-kala hasratnya juga. Tetapi mereka tidak mempunyai kehendak hati dan pengetahuan cara. Bolshevisme adalah kehendak hati dan caranya.

Perkataan ‘Bolshevisme’, yang dapat diterjemahkan dengan bebas sebagai “rancangan majoriti”, berpunca di sebuah mesyuarat Parti Demokrasi Sosial Rusia pada tahun 1903, yang berpecah menjadi dua kumpulan – pihak majoriti (bolshinstvo) memeluk prinsip-prinsip yang, selepas pengalaman sebenar Revolusi 1905, berkembang menjadi apa yang kita kini memanggil Bolshevisme. Idea utama kaum Bolsheviki pada masa itu adalah bahawa masa ini adalah zaman revolusioner – zaman apabila perjuangan kelas pekerja berubah menjadi revolusi terbuka; bahawa kuasa Tentera Kapitalisme terletak dalam fakta bahawa pengaturannya adalah terpusat, dan dipimpin oleh seorang Jeneral Pegawai – dan bahawa untuk menumbangkan Kapitalisme, Tentera Kelas Pekerja juga perlu diatur secara terpusat, dengan Jeneral Pegawainya sendiri. Pegawai Tentera Kapitalisme ditadbir oleh pihak kapitalis, demi kepentingan minoriti. Pegawai Kelas Pekerja berjuang di bawah arahan dan kepentingan majoriti – iaitu para pekerja.

Di mesyuarat ini, kaum minoriti (menshinstvo) – selepas itu dikenali sebagai kaum Mensheviki – berpendapat bahawa kelas pekerja pada masa itu tidak mempunyai pengetahuan untuk menumbangkan Kapitalisme, mahupun kemampuan untuk mewujudkan susunan sosial baru; dan, maka, bahawa Revolusi Sosial adalah mustahil buat seketika. Lebih-lebih lagi, mereka memercayai bahawa Sosialisme patut dicapai melalui ‘pendidikan’ dan tindakan politik ‘demokratik.’

Bolshevisme adalah bersifat amalan. Ia tidak menganggap bahawa kelas kapitalis akan dikeluarkan dari kekuasaan tanpa perjuangan. Kekuasaan adalah didasarkan pada permilikan swasta. Untuk menjamin kekuasaan, para pekerja mesti menguasai harta kapitalis, dan membasmikan permilikan. Ini mereka hanya dapat melakukan dengan kekuasaan – melalui Pemerintahan Diktator oleh Proletariat.

Pada hari ini, para pekerja dari kesemaua negara sedang mengambil keputusan untuk mengakhiri Kapitalisme. Bolshevisme mendesak bahawa ia adalah kaum Sosialis, iaiti pemikir revolusioner terlatih, yang mesti menunjukkan jalan, dan memimpin para pekerja pada jalan itu.

Seperti yang dikatakan oleh Lenin, “Jika Sosialisme hanya dapat diwujudkan apabila perkembangan intelek rakyat membenarkannya, maka kita tidak akan melihat Sosialisme sekurang-kurangnya buat lima ratus tahun… Parti politik Sosialis – inilah barisan hadapan kelas pekerja; ia tidak dapat membenarkan dirinya dihalang oleh kekurangan pendidikan purata rakyat jelata, tetapi ia mesti menjadi rakyat jelata menggunakan Soviet-Soviet sebagai organ-organ inisiatif revolusioner…”

Soviet-Soviet adalah badan-badan perwakilan bagi majoriti besar kelas pekerja yang tersusun. Tanpa sokongan tanpa ragu-ragu majoriti luas ini, pemimpin-pemimpin revolusioner tidak dapat mencapai apa-apa. Bolshevisme di Rusia berjaya hanya kerana rakyat sudah bersedia untuk mengikutinya. Bolshevisme didirikan pada hari ini di Rusia kerana ia disokong oleh sebahagian besar daripada rakyat Rusia.

Jika ini tidak benar, kaum Bolsheviki sudah akan menghentikan Revolusi Rusia lebih awal. Kuasa mereka adalah berdasarkan Soviet-Soviet, bagi siapa semua orang yang hidup dengan bekerja dapat mengundi – dan wakil-wakilnya tertakluk kepada pemanggilan balik terus-menerus. Soviet-Soviet tempatan berjumpa dengan kerap, dan mungkin dipanggil untuk mesyuarat tambahan dengan amaran pendek, kerana pengundi, iaitu petani atau pekerja, sentiasa terhimpun bersama di ladang-ladang atau di kilang-kilang. Kongres Soviet Se-Rusia, yang terdiri daripada lebih 2,500 orang ahli, berjumpa setiap tiga bulan, di mana Kerajaan bersara secara automatik dan sebuah Kerajaan baru diundi, yang bertanggungjawab kepada Kongres dan Majlis Eksekutif Pusat. Dan pada masa-masa lain, kesemua atau mana-mana ahli Kerajaan dapat dipanggil balik daripada pejabat dengan senang.

Komonwel Sosialis tidak dilahirkan tanpa kesakitan kelahiran yang menakutkan – Pemerintahan Diktator oleh Proletariat. Rusia pada hari ini bukanlah Komonwel Sosialis – dan tidak berpura-pura seperti itu. Sememangnya terdapat Pemerintahan Diktator oleh Proletariat, terlibat dalam mengusahakan perjuangan terakhir kelas pekerja menentang kelas-kelas kapitalis – namun, bukannya terhadap kelas kapitalisnya sendiri, kerana itu telah dikalahkan, tetapi terhadap Kapitalisme Antarabangsa. Sehingga Kapitalisme Antarabangsa ditumbangkan, Pemerintahan Diktator oleh Proletariat tidak akan, tidak dapat, berakhir.

Namun, pada masa ini, Republik Soviet Rusia, yang dibantutkan oleh kekurangan pendidikan rakyat selama beberapa abad oleh kerana pemerintahan zalim dalam kegelapan, dan terlibat dalam usaha mempertahankan dirinya daripada dunia, sudah telah mencapai beberapa kejayaan dalam menyusun industri, pertanian dan pendidikan – hanya memberi kiasan bagi kejayaan-kejayaan hebat susunan baru, apabila penghapusan halangan kapitalis akhirnya membebarkan kebijaksanaan kreatif para pekerja.

Apabila kelas pekerja, iaitu lapisan asas masyarakat, menghela bahu besarnya, seluruh mahastruktur Kapitalis meretak dan jatuh dalam kebinasaan.

Di depan mata kita sendiri, negara demi negara ditarik masuk ke dalam aliran Revolusi Sosial, dengan Bolshevisme di kepalanya.

Bolshevisme adalah Sosialisme yang telah tiba di titik revolusi sosial – di pemerintahan diktator oleh proletariat yang diramalkan oleh Karl Marx.

Matlamat pemerintahan diktator oleh proletariat adalah untuk merampas kuasa kelas kapitalis dan mengagihkannya kepada para pekerja. Ia tidak mempunyai apa-apa matlamat lain.

Cara-cara dan kesesuaian yang ia mesti menggunakan adalah berbeza mengikut keadaan-keadaan. Di Rusia pada hari ini, setengah daripada kekuatan pemerintahan diktator oleh proletariat digunakan untuk mempertahankan dirinya daripada serangan-serangan Kapitalisme Antarabangsa. Tetapi dalam polisi-polisi luar dan dalam, Kerajaan Soviet Rusia disokong oleh majoriti rakyat – petani mahupun pekerja industri.


2. Bolshevisme dan Revolusi Rusia
Bolshevisme telah menyelamatkan Revolusi Rusia. Bagi rakyat Rusia, Revolusi itu bermaksud Kedamaian, Tanah bagi para petani, dan kawalan industri oleh para pekerja. Kelas-kelas yang memiliki harta enggan melepaskan harta mereka; dan kaum Sosialis ‘sederhana,’ yang berpakat dengan pemilik-pemilik tanah dan pihak kapitalis, tidak dapat menjayakan hasrat rakyat. Hanya sebuah kerajaan yang terdiri daripada dan untuk pekerja dan petani secara eksklusif dapat memuaskan tuntutan-tuntutan ini.

Kaum Bolsheviki menyarakan sebuah Kerajaan seperti ini, dan menjadikan tuntutan-tuntutan awam ini dasar bagi rancangan mereka.

Dan sejarah Revolusi Rusia adalah babad kebangkitan rakyat jelata kepada realiti-realiti politik keadaan tersebut.

Penumbangan pemerintahan Tsar, pada bulan Mac 1917, dicapai oleh tindakan spontan oleh rakyat jelata. Pihak borjuasi Liberal tidak melibatkan diri dalam Revolusi itu. Hanya selepas Revolusi itu berjaya, baru mereka memasukinya, melalui Kerajaan Sementara, dan mencuba untuk mengikatnya bagi kegunaan meluaskan Kapitalisme.

Sementara itu, rakyat jelata sendiri sedang beratur. Pada 14hb Mac, Soviet Timbalan Pekerja dan Askar melaungkan: “Bersama-sama, kita akan berjuang untuk penumbangan Kerajaan lama.”

Maka, Soviet-Soviet, yang mewakili pekerja, askar dan petani dengan benar, kelihatan sebagai Kerajaan tulin rakyat – yang, jika ia tidak dipesongkan oleh pihak Sosialis ‘sederhana,’ dapat menjadi Kerajaan Rusia pada awal dalam Revolusi tersebut. Inilah yang tidak pernah dilepaskan oleh kaum Bolsheviki, dengan laungan mereka, “Segala Kekuasaan kepada Soviet!”

Pihak Mensheviki dan Revolusioner Sosialis menguasai Soviet-Soviet; pada awalnya, mereka mengumumkan bahawa Soviet-Soviet akan menjadi “pistol di kepala Kerajaan Sementara, untuk memaksanya menyimpan janji-janjinya.” – tetapi mereka akhirnya memberikan sokongan kepada Kerajaan Sementara dan mencuba membasmikan Soviet-Soviet.

Pihak Sosialis ‘sederhana’ berpegang bahawa, oleh kerana kemunduran ekonomi Rusia, Revolusi hanya dapat menjadi Revolusi politik – bukannya Revolusi sosial. Maka, secara semulajadi, sebuah kerajaan kapitalis perlu didirikan lebih dahulu di Rusia. Tanpa memercayai rakyat jelata dan diri mereka sendiri, mereka enggam merampas kuasa bagi Soviet-Soviet.

Menteri-menteri kapitalis, menyedari kelemahan mereka, mengancam untuk bersara kecuali jika pemimpin-pemimpin Soviet memasuki Kerajaan. Pihak Sosialis ‘sederhana’ mengikut arahan itu; pada 19hb Mei, Kabinet Persekutuan pertama ditubuhkan – yang, dengan kehidupan ekonomi masih dikawal oleh kapitalis-kapitalis, menjadi pihak Mensheviki dan Revolusioner Sosialis penyelamat-penyelamat Kapitalisme di Rusia.

Kerana pihak Sosialis ‘Sederhana’ memerlukan pihak kapitalis lebih banyak daripada pihak kapitalis memerlukan pihak Sosialis ‘Sederhana.’

Dipaksa oleh sikap rakyat, pemimpin-pemimpin Soviet mengisytiharkan syarat-syarat kedamaian Rusia: “Tidak ada penjajahan, tidak ada pampasan, hak penentuan sendiri bagi rakyat-rakyat.” Tetapi Kerajaan Sementara telah meluluskan perjanjian-perjanjian sulit yang dibuat di antara pemerintah Tsar dan kuasa-kuasa Sekutu Eropah, dan pihak Sosialis ‘sederhana’ terus menyokong peperangan yang mereka sendiri telah mengutuk sebagai “pembunuh imperialis tanpa erti.” Selepas tawar-menawar kaum imperialis Sekutu-Sekutu dan dan Rusia, mereka memberikan persetujuan kepada serangan Julai, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Revolusi, dan mengakibatkan keputusan asa tentera Rusia. Bergantung kepada pihak Kapitalis, mereka disingkirkan kepada usaha merayu kaum imperialis Rusia dan Sekutu-Sekutu untuk menjerumuskan matlamat-matlamat imperialis mereka – dan diabaikan dengan kehinaan.

Dalam tangan sebelah, pihak Sosialis ‘sederhana’ dalam Kerajaan tidak dapat mencapai apa-apa menuju penyelesaian masalah-masalah Tanah dan Industri. Sebenarnya, pergantungan mereka pada pihak kapitalis memaksa mereka bertindak menentang rakyat: Menteri ‘Sosialis’ Kerensky, memperkenalkan semula hukum bunuh dalam tentera; Menteri ‘Sosialis’ Avksentiev, menghantar askar Cossack untuk menindaskan pemberontakan-pemberontakan menentang tuan-tuan tanah; Menteri ‘Sosialis’ Nikitin memecahkan permogokan pekerja keretapi; Menteri ‘Sosialis’ Skobeliev mencuba membasmikan Majlis-Majlis Pekerja.

Sambil mendiamkan hasrat rakyat jelata, pihak Sosialis ‘sederhana’ memberikan pihak kapitalis peluang untuk mengatur dan mencuba menumbangkan Revolusi dengan keganasan – iaitu melalui revolusi-balasan Kornilov.

Ini menghapuskan kepercayaan terakhir rakyat kepada pihak Sosialis ‘sederhana.’ Di sebalik Kornilov dapat dilihat dengan jelas buku lima terpaku kelas-kelas berharta; dan namun, berhadapan kemarahan pahit seluruh negara, pihak Sosialis ‘sederhana’ terus mendesak pembentukan sebuah Kerajaan baru dengan kelas-kelas berharta yang sama!

Apabila kaum Bolsheviki merampas kuasa pada bulan November, tentera sedang mengalami kebuluran dan keputusan asa; tidak terdapat makanan di bandar-bandar; pengangkutan telah dihentikan; permogokan, rusuhan dan masalah pertanian bermaharajalela; kaum kapitalis, dalam Majlis Republik Rusia lebih kuat daripada dahulu; dan Sosialis ‘sederhana’ memberitahu rakyat: “Kami tidak dapat melakukan apa-apa – tunggulah untuk Majlis Perlembagaan!”

Kaum Bolsheviki memberitahu rakyat:

“Pihak Mensheviki dan Revolusioner Sosialis menjanjikan anda Kedamaian, Tanah dan Kawalan Perindustrian lapan bulan yang lalu. Kini mereka menyuruh anda menunggu Majlis Perlembagaan.

“Seperti dengan Kerajaan Sementara, Majlis Perlembagaan adalah perluahan hubungan-hubungan kelas yang sedia ada. Jika pihak kapitalis menguasai Rusia, Majlis Perlembagaan akan melaksanakan hasrat mereka atau dibubarkan. Jika kelas pekerja menguasai Rusia, Majlis Perlembagaan mesti melaksanakan hasrat kita.

“Seluruh struktur Kerajaan dibina untuk melayani dan menjaga Kapitalisme; ia tidak dapat melakukan apa-apa selain itu.

“Anda mesti merampas kuasa, musnahkan seluruh bangunan politik, dan bina sebuah bangunan baru, dikuasi oleh diri anda sendiri, dan disesuaikan untuk melayani kelas pekerja sahaja. Nasib baik, anda sudah mempunyai satu yang sedia – Soviet-Soviet. Segala kuasa kepada Soviet!”

Pada 7hb November 1917, Soviet-Soviet – yang sementara itu telah memperkembangkan majoriti Bolshevik – merampas kuasa Kerajaan. Dan Kerajaan Sementara, disokong oleh Sosialis ‘sederhana,’ tidak dapat menyeru Rusia kepada bantuannya melainkan beberapa orang Cossack, junker dan Penyelamat Putih!

Majlis Perlembagaan, diundi dari senarai-senarai calon yang dilukiskan empat bulan lebih awal, dengan tepat mencerminkan ‘persekutuan’ di antara kapitalis dan Sosialis ‘sederhana’ yang berada dalam kekuasaan pada masa itu. Ia enggan mengesahkan Kerajaan Rakyat Soviet-Soviet, mahupun tuntutan-tuntutan popular. Maka rakyat membubarkannya dan pembubaran itu tidak membawa walau sedikit pun riak pemberontakan di kalangan rakyat Rusia; hanya kaum ‘intelek Sosialis’ dan akhbar New York Times membantah.

Beberapa bula yang lalu, tujuh puluh ahli Majlis Perlembagaan yang masih kekal, dengan Presidennya, Victor Tchernov, menjadi ahli Kerajaan Soviet. Mana-mana tentangan terhadap Bolshevisme berdasarkan Majlis Perlembagaan adalah sah lagi.

Bolshevisme sedang menyebar ke seluruh Eropah. Di setiap negara di dunia ia telah menangkap imaginasi para pekerja yang sedar. Ia menghancurkan Jerman Imperialis; katanya Jeneral Jerman, Hoffman, dalam temuramah baru-baru ini, “Kami tidak menggunakan Bolshevisme. Bolshevisme menggunakan kami!”

* * * * * *

Apa-apa perbincangan mengenai Perjanjian Kedamaian Brest-Litovsk kini adalah akademik semata-mata. Ia telah mencapai matlamatnya untuk memberikan Rusia Soviet waktu rehat untuk bersedia untuk peperangan Revolusi – iaitu peperangan propaganda – yang akhirnya mengakibatkan kekalahan Jerman Imperialis, dan telah memenangi kembali bagi Rusia segala kawasan ‘terampas,’ yang belum diserang atau dipegang oleh Kerajaan-Kerajaan yang dibiayai oleh Sekutu-Sekutu.

Tidak terdapat apa-apa lagi untuk dilakukan oleh kaum Bolsheviki melainkan membuat kedamaian. Apabila Soviet-Soviet mengambil kuasa, oleh kerana polisi zalim Kerajaan-Kerajaan Sementara, tidak terdapatnya Tentera Rusia.

Ini diakui oleh setiap parti; oleh Menteri Peperangan kepada Kerensky, Jeneral Verkovsky, apabila, pada 2hb November, dia mengumumkan bahawa tentera Rusia tidak lagi dapat berjuang; oleh Dan, yang mewakili Sosialis ‘sederhana’ semasa mesyuarat terakhir Majlis Eksekutif Soviet-Soviet Pusat lama pada 6hb Novemner, apabila dia berkata, “Malangnya, Rusia tidak lagi dapat menyokong penerusan peperangan. Kedamaian akan berlaku, tetapi bukannya kedamaian berterusan – bukannya kedamaian demokratik”; dan akhirnya oleh Mahlis Perlembagaan malang sendiri.

Tindakan-tindakan pertama Kerajaan Bolshevik merupakan untuk mencadangkan kepada setiap negara, sebanyak tiga kali, untuk membincang mengenai kedamaian demokratik umum. Jemputan ini tidak dipedulikan, lalu meninggalkan satu-satunya pilihan bagi Kerajaan Soviet untuk membuat kedamaian asing dengan Jerman.

Trotsky ingin memanjangkan perbincangan selama yang dapat, supaya, pertama sekali, rakyat negara-negara Sekutu dapat melihat ketulusan Kerajaan Soviet dan memaksa Kerajaan-Kerajaan mereka untuk mengikuti Mesyuarat tersebut; dan kedua, agar proletariat Jerman mungkin diseru kepada revolusi.

Teori Lenin merupakan: “Sekutu-Sekutu dikuasai oleh pihak Imperialis. Proletariat Jerman belum lagi bersedia untuk bangkit. Kita perlu menandatangani kedamaian. Jika kita tidak menerima syarat-syarat kedamaian yang ditawarkan, maka kita akan dipaksa menerima syarat-syarat yang lebih buruk kemudian. Dan tidak mengira berapa ramai orang memercayai ketulusan kami, ketika apabila kita menandatangani perjanjian kedamaian, kita akan dituduh sebagai ejen Jerman oleh borjuasi di seluruh dunia.”

Rancangan Trotsky dipupuk – dan ramalan Lenin berlaku.

Kata Lenin: “Kami dipaksa menandatangani ‘kedamaian Tilsit’… Kedamaian Tilsit (Napoleon, 1807) merupakan kemaluan Jerman terbesar, dan pada masa yang sama, titik permulaan bagi pembangkitan kebangsaan hebat…

“Oleh kerana borjuasi Inggeris-Perancis dan Amerika berharap mendirikan semula barisan peperangan Timur sekali lagi dengan menarik kami ke dalam pusaran air peperangan, mereka enggan menghadiri mesyuarat kedamaian, dan memberi sokongan untuk memaksa syarat-syarat memalukannya ke dalam kerongkong rakyat Rusia. Ia terletak dalam kuasa negara-negara Sekutu untuk menjadikan perjanjian Brest-Litovsk barisan depan bagi kedamaian umum. Ia adalah salah untuk mereka meletakkan kesalahan bagi kedamaian Rusia-Jerman pada bahu kami…

“Kami berada dalam kubu lemah selagi mana-mana Revolusi Sosial antarabangsa tidak membantu kami dengan tentera-tentera mereka. Tetapi tentera-tentera ini wujud, ianya lebih kuat daripada tentera kami. Mereka bertumbuh, mereka berjuang, mereka menjadi lebih kuat semakin Imperialisme berterusan dengan kezalimannya. Para pekerja di seluruh dunia sedang memutusakan hubungan dan pengkhianat mereka, dengan Gomepers dan Scheidemann. Tanpa dapat dielakkan, tenaga pekerja sedang mendekati taktik-taktik Komunis Bolshevik – sedang bersedia untuk revolusi proletariat yang dapat mengekalakn adat dan umat manusia daripada kebinasaan.

“Kami tidak dapat dikalahkan. Revolusi proletariat tidak dapat dikalahkan.”


3. Pemerintahan diktator proletariat dan demokrasi
Revolusi Sosial telah tiba. Perjuangan terakhir bagi kelas pekerja demi kekuasaan dunia kini sedang diperjuangkan di Rusia. Lenin berkata, semasa Kongres Soviet-Soviet Ke-empat, pada bulan Mac 1918:

“Perang saudara telah membawa tentangan nekad oleh kelas-kelas berharta, yang sedar bahawa ini akan menjadi konflik terakhir lagi penentuan bagi pengekalan permilikan swasta ke atas tanah dan cara-cara pengeluaran, tetapi belum mencapai kemuncaknya. Dalam konflik ini, kejayaan Soviet-Soviet sudah past, tetapi buat seketika, usaha-usaha kami yang paling gigih akan diperlukan. Masa tidak teratur tidak dapat dielakkan – itulah yang berlaku dalam setiap peperangan, lebih-lebih lasgi dalam perang saudara – sebelum tentangan borjuasi dipatahkan.” Sehingga tentangan ini dipatahkan – sehingga kelas kapitalis dihapuskan melalui rampasan hartanya dan pembasmian permilikan swasta, demokrasi adalah mustahil. Pemerintahan Diktator oleh Proletariat merupakan satu-satunya cara melalui mana ini dapat dicapai. Daan apabila kelas kapitalis telah melesap, Pemerintahan ini juga melesap secara automatik.

Di setiap negara, keadaan peperangan wujud di antara kelas pekerja dan pihak kapitalis. Di kebanyakan negara, Pemerintahan Diktator oleh Kapitalis menindas para pekerja dengan ganas, tetapi tidak dapat membasmikan mereka, kerana para pekerja tidak dapat diketepikan. Di Rusia, Pemerintahan Diktator oleh Proletariat sedang membasmikan Kapitalisme – kerana pihak kapitalis tidak diperlukan oleh masyarakat.

Demokrasi politik adalah palsu.

Negara-negara moden mempunyai dua kerajaan; kerajaan politik, di mana setiap orang mempunyai undi secara teori – dan kerajaan ekonomi, di mana golongan minoriti yang memiliki industri dan mengawal pengeluaran adalah pemerintah autokrat ke atas berjuta-juta orang pekerja. Polisi-polisi kerajaan ‘demokratik’ ditentukan oleh ‘kepentingan-kepentingan’ ini. Woodrow Wilson, dalam ‘Kebebasan Baru’ dia, menunjukkan ini apabila dia berkata bahawa Kerajaan Amerika Syarikat terletak dalam tangan perusahaan-perusahaan besar.

Demokrasi politik hanya bermakna bahawa setiap orang dapat mengundi bagi sebuah Kerajaan yang perlu melayani ‘kepentingan-kepentingannya.’

“Kuasa politik, dengan namanya yang betul,” kata Manifesto Komunis, “hanyalah kuasa tersusun satu kelas yang menindas kelas yang lain.” Pertubuhan-pertubuhan kerajaan ‘demokratik’ moden dicipta untuk menjaga dan mengekalkan pengeksploitasian para pekerja oleh pihak kapitalis. Maka, jika kelas pekerja dapat merampas kuasa politik melalui majoriti undi, kuasa itu hanya dapat terus mengeksploitasikan para pekerja – kecuali jika ekonomi industri dirampas dari kelas kapitalis. Pihak kapitalis akan menentang ini dengan ganas – seperti yang mereka telah melakukan pada masa yang lalu – seperti mereka sedang melakukan di Rusia dan Jerman pada hari ini.

Tetapi ia adalah mustahil untuk para pekerja mengambil kuasa kerajaan melalui jentera demokrasi politik. Mereka mesti merampas industri dengan kuasa, membasmi bentuk kerajaan yang sedia ada, dan mendirikan kerajaan baru demi kepentingan kelas mereka sendiri. Kerajaan ini – Pemerintahan Diktator oleh Proletariat – akan merampas harta kapitalis dan merampas hak mengundi dari semua mereka yang enggan bekerja. Apabila kelas kapitalis dihapuskan, peperangan di antara pekerja dan pihak kapitalis akan berkahir, kelas-kelas akan melesap, dan demokrasi akan mengikuti, berdasarkan kesama-rataan dan kebebasan individu.

Demokrasi tulin mesti bertindak mengikut kepentingan masyarakat secara menyeluruh. Bentuk kerajaan kam sendiri adalah contoh jelas sebuah Kerajaan yang direka untuk mempertahankan kepentingan sebuah minoriti – iaitu kelas kapitalis. Walaupun kelihatan seperti demokrasi dalam bentuk, Perlembagaan Amerika Syarikat direka dengan sengaja, oleh tuan-tuan tanah, pedagang-pedagang dan ahli-ahli spekulasi, untuk mendirikan dan menjaga hak-hak harta mereka dan untuk mendiamkan hasrat majoriti rakyat.

Revolusi-revolusi tidak pernah dimulakan oleh majoriti orang – malah Revolusi Amerika tidak dimulakan oleh majoriti – tetapi mereka mesti memiliki kuasa untuk menumbangkan kelas pemerintah. Pada masa yang lalu, revolusi-revolusi yang berjaya sentiasa menggantikan pemerintahan satu kelas minoriti oleh kelas minoriti yang lain. Ciri Revolusi Sosial yang kini berlangsung adalah bahawa ia menghapuskan setiap jenis pemerintahan kelas.

Tetapi Revolusi Sosial juga tidak akan – tidak dapat dimulakan olej majoriti. Ia dimulakan oleh majoriti sebuah kelas – proletariat yang sedar dan tekun, dan aliran Revolusi sendiri membangunkan semakin ramai pekerja kepada kesedaran kepentingan mereka, dan menarik mereka ke dalam vorteks pemberontakan.

Tidak terdapatnya sebab mengapa kuasa-kuasa revolusioner perlu mewakili majoriti mutlak. Malah apabila ianya memeluk majoriti luas kelas pekerja, tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan Pemerintahan Diktator oleh Proletariat tidak akan didasarkan pada demokrasi, tetapi pada kedudukan kelas proletariat menentang kedudukan kelas kapitalis. Di Rusia, Pemerintahan Diktator oleh Proletariat tidak dapat kekal selama sejam jika ia tidak berhubungan dengan golongan revolusioner secara berterusan melalui Soviet-Soviet, memimpin walaupun dikawal oleh hasrat popular luas.

Pihak Sosialis sederhana – dan kaum borjuasi – menuduk kaum Bolsheviki dengan menyeru Sosialisme serta-merta, bulat dan sempurna. Betapa gilanya ini! Pemerintahan Diktator oleh Proletariat mesti kekal sehingga Kapitalisme dibasmikan. Kapitalisme adalah antarabangsa; Kapitalisme dunia perlu dihapuskan sebelum Pemerintahan Diktator oleh Proletariat di satu negara diakhiri.

Karl Marx pernah mengatakan, “Proletariat yang berjaya tidak dapat merampas jentera Kerajaan yang sedia ada dan menggunakannya untuk tujuan-tujuannya sendiri.” Ia perlu membina pertubuhan-pertubuhan baru, bukannya berdasarkan pemerintahan ke atas manusia, tetapi pentadbiran benda.

Di Rusia, ia tidak dapat dinafikan bahawa golongan majoriti menginginkan Kedamaian, Tanah dan Kawalan Industri oleh Pekerja. Dari segi di mana ia tidak mempunyai tujuan melainkan untuk memuaskan hasrat rakyat, Pemerintahan Diktator oleh Proletariat adalah demokratik. Dari segi bahawa ia enggan mengambil pendapat pihak ketenteraan, tuan-tuan tanah dan usahawan-usahawan mengenai perihal ini, Pemerintahan Diktator oleh Proletariat menolaj ‘demokrasi.’

* * * * *

Pemerintahan Diktator oleh Proletariat adalah ‘kuasa politik.’ Tujuannya hanyalah untuk membasmikan kelas kapitalis. Kuasa politik pihak kapitalis tidak dapat membasmikan para pekerja – para pekerja adalah penting bagi masyarakat; tetapi Pemerintahan Diktator oleh Proletariat dapat membasmikan pihak kapitalis, kerana mereka tidak diperlukan.

Dikalahkan dalam permainan mengoyak ungkapan-ungkapan Marxsis dari keadaannya, pihak sederhana, apabila mereka melintas sesuatu dalam Marx yang tidak sejajar dengan teori-teori mereka, menjelaskan bahawa dia menulis dengan silap. ‘Pemerintahan Diktator oleh Proletariat’ misalnya, ditulis secara ‘kebetulan’ – “hanya ungkapan semata-mata”; Marx sebenarnya tidak memaksudkannya.

Nampaknya pihak sederhana tidak menyedari di mana ungkapan itu ditulis, jadi mereka memberi kiasan bahawa ia adalah sebahagian daripada Manifesto Komunis, yang ditulis pada tahun 1847. Mereka mungkin memetik beberapa ayat – dikoyakkan daripada konteksnya – dari Perang Saudara di Perancis, ditulis pada tahun 1870, untuk membuktikan bahawa Marx telah mengubah fikirannya.

Sebenarnya, ‘Pemerintahan Diktator oleh Proletariat’ ditulis dalam sebuah dokumen lima tahun lebih awal – Kritikan Terhadap Rancangan Gotha, pada tahun 1875. Marx pada masa itu sudah matang; dia tidak lagi mencari ‘idiom-idiom ganjil’; dia ingin meluahkan dirinya dengan jelas dan tetap – dan dia melakukannya sedemikian.

“Di antara masyarakat kapitalis dan komunis terletak masa peralihan revolusioner dari satu ke yang satu. Ini adalah sejajar dengan masa peralihan politik, di mana Kerajaan tidak dapat menjadi apa-apa melainkan pemerintahan diktator oleh proletariat.”

Ini menghuraikan Kerajaan Rusia Soviet dengan tepat.

Seperti yang dikatakan oleh Marx:

“Mereka (kaum proletariat) tidak mempunyai apa-apa untuk menjaga dan untuk mengukuhkan; misi mereka adalah untuk memusnahkan segala kesemalatan dan penjagaan bagi harta swasta…”

“Pendek kata, anda (borjuasi) menuduh kami dengan ingin memusnahkan segala harta harta. Memang tepat; itulah yang kami ingin melakukan…”

“Pembasmian sifat individu borjuasi, kebebasan borjuasi dan kemerdekaan borjuasi sudah pasti disasarkan…”

Dan begitu juga dengan ‘demokrasi’ borjuasi!







Oleh John Reed

Diterbitkan buat kali pertama pada 12hb Julai 1919 dalam The Revolutionary Age

Diterjemahkan oleh Muhammad Salleh (Mac 2002)